30 Januari 2011

Workshop International


Berikut ini adalah situasi pada saat saya mengikuti workshop international mengenai mutu dan produktivitas yang diselenggarakan oleh Wahana Kendali Mutu pada tanggal 23 November 2010 bertempat di Hotel Harmoni One , Batam

19 Oktober 2010

Pelanggan adalah Keseluruhan Proses (End To End Customer)

Pelaksanaan proses secara benar (efektif dan efesien) sejak awal sampai akhir, mutlak dilakukan oleh setiap karyawan untuk membangun keunggulan bersaing. Kita perlu memahami kebutuhan pelanggan dengan benar, serta hal yang kritikal pada setiap subproses demi tercapainya kepuasan pelanggan secara menyeluruh (Total Customer Satisfaction). Contoh perilaku yang sesuai dengan prinsip pelanggan adalah keseluruhan proses:
1. Menolak produk atau jasa yang cacat, untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
2. Mengungkapkan dan mengatasi masalah yang terjadi dalam proses kerjanya.
3. Tidak meneruskan produk/jasa yang cacat ke proses berikut.

Ada banyak cara untuk mengukur cacat, misalnya ketidaksesuaian dengan standar, rusak, ketidaksesuaian dengan harapan pelanggan, kualitas yang tidak sebaik kualitas pesaing, dan hasil customer survey dibawah standar yang ditetapkan

02 September 2009

Sejarah Perkembangan Gerakan Kendali Mutu di Indonesia

Indonesia, yang berusaha melepaskan diri dari ketergantungan terhadap ekspor minyak, perlu merangsang pertumbuhan ekspor non-migas. Penanganan terhadap pengendalian mutu perlu dilakukan secara sungguh-sungguh dan lebih sistematis agar produknya dapat bersaing di pasar internasional. Peningkatan ekspor non-migas akan menambah laju pertumbuhan perekonomian, yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Hal ini tidak lepas dari pengamatan para praktisi yang pernah belajar tentang pengendalian mutu.
Beberapa praktisi kemudian membentuk Quality Control Club yang kegiatannya dimulai pada bulan Juni 1984. Mengingat minat masyarakat yang semakin besar terhadap masalah pengendalian mutu, kegiatan QC Club perlu diperluas dan wadahnya diperbesar. Maka pada tanggal 1 Maret 1985 didirikan Perhimpunan Manajemen Mutu Indonesia (Indonesian Quality Management Association) yang berpusat di Jakarta. PMMI merupakan suatu wadah yang bersifat nasional dan bertujuan mengembangkan konsep TQM (Total Quality Management) atau Pengendalian Mutu Terpadu sesuai dengan kondisi dan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Pada tanggal 29 April 1985 organisasi PMMI dikukuhkan oleh Bapak Menaker Sudomo dan Bapak Menperin Ir. Hartarto dalam suatu upacara yang dihadiri oleh seluruh pengurus dan sekitar 100 anggota PMMI.
Namun sangat disayangkan PMMI bukanlah organisasi pertama yang menggerakkan TQM di Indonesia. Ada sebuah perusahaan yang telah menggerakkan terlebih dahulu. Astra merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang secara serius menggarap TQM dan menjadikannya sistem manajemen yang berlaku lintas Group. Komitmen dan dukungan yang kuat dari manajemen Astra pada awal 80an muncul karena adanya paradigma bahwa Astra yang bertumbuh besar memerlukan suatu sitem manajemen yang dapat menyatukan ’bahasa’ seluruh Astra, cocok dengan budaya Indonesia, dan dapat membawa Astra kepada visinya. Berikut uraian singkat tentang sejarah pertumbuh kembangan TQM di Astra:
Tahun Keterangan
1980 TQC pertama kali diperkenalkan lewat PT. United Tractors, PT. Multi Astra, PT. Gaya Motor, dan PT. Nippondenso Indonesia. TQC yang masuk ke kelompok Astra bersumber dari :
1. Komatsu
2. Fuji Xerox ( New Xerox Movement )
3. Honda
4. Toyota
5. dan lain-lain
1981 - 1982 Seminar, penelitian dan diskusi tentang penerapan TQC di Astra.
1982 Manajemen puncak memutuskan TQC sebagai sistem manajemen Astra; dirumuskan Coorporate Key Result Areas.
1983 Sistem manajemen Astra disebut Astra Total Quality Control (ATQC) dan dimulailah pelatihan masif ATQC kepada seluruh jajaran manajemen Astra Group dan berawal dari para pimpinan puncak pada bulan Oktober 1983.
Kegiatan TQC/QCC dimulai dengan promosi kegiatan TQC dan QCC ( 3 model groups) dengan bantuan dari Principal.
1985 Diperkenalkan kegiatan Idea Sugestion / Improvement dan diikuti dengan QCC Convension.
1990 Dimulai aktivitas Quality Assurance dan Organisasi yang ditujukan untuk Customer Satisfaction dengan sasaran The Best Quality di Asia dan diikuti dengan training 7-Habits secara masif. Pada saat bersamaan dilaksanakan Skill Improvement Program terhadap Managers dan Supervisors dan diikuti dengan pelatihan masif Practical Problem Solving untuk para General Managers.
1994 Aktivity Management diubah dari bersifat ‘ Vertical ‘ menjadi Cross Functional Activity Management, untuk lebih mempertajam pembagian tanggung jawab dan pencapaian sasaran.
Astra Quality Control Circle ikut berpartisipasi dalam The Internacional Competitive Presentation of IEQCC, Singapura.
Eksekutive dari Manufacturing dan HR mengadakan program kunjungan ke Best Practice Companies di Malaysia dan Singapura.
1995 Astra Quality Control Circle, QCC Lepas of Auto 2000, Bogor merebut penghargaan The First Twin Winners bersama QCC Motorola, Malaysia.
1996 Astra melaksanakan konvensi pertama Astra Quantum Leap Program (AQLP) di Bali.
1997 Diperkenalkan SQC training terutama untuk para Engineers, dan untuk jajaran manajemen diberikan pelatihan Strategic Service Intent.
1998 Astra Total Quality Control mulai dikenal dengan Astra Total Quality Management (ATQM).
2000 Focus ATQM pada implementasi Manajemen Mutu secara konsisten dan mulai diperkenalkan Strategic Manajemen dan sistem lain ( seperti ISO 9000:2000, Six Sigma, dll) sebagai penyempurnaan dari ATQM.
2001 Direksi Astra memutuskan menggunakan Astra Management System (AMS) sebagai pengganti ATQM; diluncurkan buku pedoman Astra Manajemen System.

Kemudian, pada tahun 1997 berdirilah Wahana Kendali Mutu (WKM) yaitu sebuah organisasi kendali mutu yang bersifat nasional yang memiliki sekretariat di Jakarta. Dalam perkembangannya WKM telah berhasil mengadakan suatu kegiatan yang diberi nama Temu Karya Mutu dan Produktivitas Nasional (TKMPN) sebanyak 12 kali pertemuan. Terakhir kali TKMPN XII diselenggarakan pada tanggal 1 – 5 Desember 2008 di Hotel Sanur Paradise Plaza – Bali dengan menghadirkan para pembicara dari dalam dan luar negeri. Selain itu WKM telah berhasil mengadakan kegiatan forum internasional sebanyak tiga kali yang diberi nama International Quality & Productivity Convention. Dalam kegiatannya (TKMPN & IQPC) WKM memiliki misi, yaitu memberikan kesempatan kepada perusahaan swasta, BUMN, Lembaga Pemerintah, Perguruan Tinggi, Koperasi, Organisasi Nirlaba Nasional maupun Internasional untuk mendemontrasikan keberhasilan dan saling tukar pengalaman dalam peningkatan mutu dan produktivitas. Dengan tujuan sebagai berikut:
1. Memicu dan memacu timbulnya karya-karya bermutu yang bermanfaat bagi organisasi masyarakat dan bangsa.
2. Meningkatkan wawasan, inisiatif dan kreatifitas setiap peserta.
3. Membuka cakrawal baru bagi pimpinan / manajemen dalam menyikapi penerapan Sistem Manajemen Terpadu dan Pengembangan SDM.
4. Menyerap ilmu dan pengetahuan dari para praktisi yang telah berpengalaman luas dalam pengembangan manajemen dan sumber daya manusia dari dalam maupun luar negeri untuk kemajuan organisasi.
5. Meningkatkan kebersamaan dan kerukunan antar instansi Pemerintah, badan yudikatif, legeislatif, organisasi sosial, dunia pendidikan dan dunia usaha.

Sumber Rujukan :
1. http://www.pmmi-iqma.org/pmmi.php?page=1
2. http://www.wkm-ind.com/sejarah.htm
3. Buku Pedoman Astra Management System


26 Agustus 2009

Sejarah Perkembangan Gerakan Kendali Mutu di Dunia

Gebrakan kendali mutu sudah dimulai di Amerika dengan penggunaan metoda statistik di bidang produksi sejak tahun empat puluhan. Muncul tokoh-tokoh seperti Juran dan Deming yang memelopori penggunaan konsep statistik untuk mengelola kualitas hasil produksi. Karena kurang populer di Amerika, konsep ini dibawa ke Jepang pada April 1962 oleh Dr. Kauro Ishikawa pada inagurasi Japanese Union of Scientists Engineers (JUSE). Jepang yang telah berhasil menerapkan Total Quality Management ( TQM ), lalu mengekspor gerakan QCC keseluruh dunia sejak tahun tujuh puluhan.
Dengan bermodal jurus TQM, Jepang menggebrak dunia industri dan membalikkan paradigma orang bahwa mereka tidak lagi identik dengan produk murahan, berkualitas asal jadi, dan ketinggalan jaman. Hal ini terus berlanjut sehingga membuat industri Jepang menjadi paling yang terkemuka di dunia, khususnya dalam bidang otomotif dan elektronika.
Keberhasilan Jepang lantas ditiru oleh Amerika dan Eropa yang industrinya sangat terpukul karena kalah bersaing. Motorola, misalnya, mengirimkan eksekutifnya untuk melakukan benchmarking ke Jepang pada awal delapan puluhan dan kemudian mengembangkan Six Sigma yang dianggap sangat fenomenal. Sejak sembilan puluhan, berbagai perusahaan kelas dunia mulai menerapkan Six Sigma dengan mengalami keberhasilan yang luar biasa. Salah satunya adalah General Electric ( GE ). Pada tahun 1995 Jack Welch, CEO GE, menggencarkan Six Sigma yang lantas melambungkan nama Six Sigma. Beberapa analis Wall Street memperkirakan bahwa GE telah berhasil meraup keuntungan lebih dari lima miliar dolar dari inisiatif Six Sigma.
Beberapa inisiatif kualitas lain yang pernah muncul adalah Bussiness Process Reengineering ( BPR ) pada tahun 1990-an, ISO 9000 dan QS-9000 pada 1994. Terlepas dari kemunculan konsep atau sistem baru, Jepang dikenal sangat konsisten dalam menerapkan TQM. Mereka berhasil membuktikan bahwa TQM merupakan alat strategi yang membawa mereka memenangkan dan mempertahankan keunggulan dalam kancah persaingan bisnis global.
Lalu bagaimana dengan Indonesia, sudahkah Indonesia menerapkan konsep tersebut dan bagaimanakah tingkat keberhasilannya? Temukan jawabannya di edisi mendatang hanya di www.qc-corner.blogspot.com.


Pendahuluan

Quality Control Circle ( QCC ) atau gugus kendali mutu adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam suatu organisasi atau perusahaan dan dilakukan secara terus menerus untuk meningkatkan mutu dan produktivitas, jasa dan pelayanan serta menjaga dan memelihara keselamatan dan lingkungan kerja sehingga dapat memberikan kontribusi yang optimal bagi pencapaian sasaran perusahaan.
Adapun manfaat kendali mutu diantaranya adalah sebagai berikut :

- Mengurangi kesalahan dan meningkatkan kualitas kerja
- Mengilhami kerjasama yang efektif
- Meningkatkan keterlibatan dalam tugas dan tanggung jawab
- Meningkatkan motivasi kerja
- Menciptakan kemampuan memecahkan masalah
- Membangkitkan sikap mencegah timbulnya masalah
- Memperbaiki komunikasi dalam perusahaan
- Mengembangkan hubungan yang harmonis antara manajemen dan semua karyawan
- Meningkatkan pengembangan pribadi dan sikap kepemimpinan

Pada webblog ini akan disajikan tulisan-tulisan yang akan membantu anda dalam menerapkan kegiatan QCC disertai dengan contoh-contoh nyata yang banyak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan besar di Indonesia.
Akhir kata, mudah-mudahan webblog ini mampu meningkatkan ketrampilan serta menambah wawasan anda dalam mengelola dan mengendalikan mutu.

Enjoy this blog and goodluck !!
Salam Inovasi dari penulis,
Indra Zudin